Kemana kita sore ini?

Ingin kuajak kau ke pantai sore ini
Sekedar ingin berjalan bergandeng di pinggir pantai
Sudah lama tak mengenggam jemari tanganmu,

Mungkin saja dingin angin laut bisa mengeratkan pelukan
Atau silangan jari kita yang tak membiarkan angin memisahkan

Kemana kita sore ini?

Ingin mengajakmu ke danau kecil yang tak ramai itu
Sekedar ingin duduk berdua, berceloteh tentang bangau yang terbang tak terarah
Sudah lama duduk berdua berdekatan , bersamamu

Mungkin saja sisa-sisa hujan membuatmu tak ingin duduk dimanfaatkan angin lalu
Atau kursi pinggir danau ini yang mengerti keinginan kita.

Kemana kita sore ini?

Tapi aku masih disini, menghitung kemungkinan kemana kita akan pergi
Sambil sesekali menyeruput segelas kopi yang sudah tak berasa.
Masih di warung kopi ini, menghitung kemungkinan pertemuan

Sedang di luar sana.
Malam dan hujan memerangkap sendiri disini


Puisi untuk @didochacha dalam #DuetPuisi
Aku berkata-kata yang sama,
Pada orang yang sama,
Dengan perasaan yang sama,
Di waktu yang berbeda,

Pernah kucoba melukis bentuk hati yang baru
Pada kanvas lain yang lebih putih dan lebih indah
Entah kenapa,
Selalu saja bentuk hati yang dulu kau berikan tercetak di kepala.

Lalu aku bertanya,
Masihkah kita mempertanyakan ini salah siapa?
Padahal kita sama-sama tahu bahwa kita masih ingin saling menggenggam
Bahwa kita masih saling ingin beradu padu, 

Disini, kendi besi sudah merintih,
Sudah siap kuseduh teh, iya, teh, kesukaanmu
Bukan kopi seperti yang biasa kuseduh
Aku ingin kau disini sekarang. saaat ini. Dirimu.

Bisa?
Di puasa kali ini,
kau tak sempat disini,
menemani, 

Kau, mungkin bisa jadi teh manis yang menyejukkan
atau mungkin semangkok kolak pisang yang begitu dingin,

Ah, kamu dan jejeran kolak pisang, selalu
selalu,
selalu......

Lalu kapan bisa kau cicipi semangkok rindu yang kuracik sendiri?


Aku duduk disini, sendiri
Menghitung tulisan yang tercipta,
Sudah tak terhitung jari.

Mengapa aku sendiri?
Karena kesepian sudah menjadi ramah padaku

Aku duduk sendiri, menutup mata,
Mencerna beberapa tulisan
Sambil menyeruput kopi yang kembali hangat

Mengapa menutup mata?
Karena ada tulisan yang menunggu dirimu.

Aku duduk disini, menunggu,
Menyeruput kopi hitam yang rasanya berubah-ubah,
Tentang ada atau tidak adanya dirimu.

Mengapa aku menunggu?
Karena menunggumu, mata air tulisanku.

Mungkin memang aku bodoh, menjadi daun yang menari-nari
Tertiup angin yang entah kemana, atau bagaimana.
Setidaknya, aku tak akan terlalu jauh jatuh dari kau yang menggenggam
Mengendap, melebur, menyatu dengan tanah, lalu menyuburkan kembali apa yang kita pendam

Aku menunggu, dan mencoba setia,
Bosankah menunggu?
Bukankah kesetiaan itu memang harus diadu?

Oh iya, masih bisa kutagih kopi buatanmu? 
Aku duduk disini,
Menikmati segelas kopi yang datang terlambat
Kupesan untuk menemani,
sambil menunggumu.

Aku duduk disini,
Ditemani beberapa lagu yang semakin asing di telingaku
Menemani diriku,
Sambil menunggumu.

Duduk disini, sendiri
menulis kata yang tak ingin bosan kueja.
Menemani diriku,
Namamu.

Duduk, ingin beranjak,
Bangku bambu ini sudah kepanasan mendengar celotehanku sendiri.
Yang sudah bosan menemani,
Menunggumu.

Tapi aku tetap ingin duduk disini, 
bersama lagu dan segelas kopi yang sudah tinggal ampas.
dan beberapa orang asing yang lalu lalang
Hanya untuk menunggumu.
aku adalah sampah yang berserakan diantara jalan-jalan yang telah dilalui oleh penjalan kaki yang teronggok tak berdaya melihat tumpukan mahkota yang menghiasi dunia.

aku adalah kotoran yang setiap hitungan detik dibuang dan tak mungkin dilirik lagi kecuali bagi mereka yang ingin menjual diriku kembali.

dia adalah binatang yang tak tahu aturan yang berjalan dengan angkuh diantara hutan-hutan rimba yang sebenarnya lebih besar dari diriku ini.

dia adalah bintang yang menabur diantara jagad raya yang dengan sombongnya memamerkan kilauannya tanpa menyadari ada matahri yang memberikannya sinar yang membuatnya bisa berkelap-kelip dan tak pula menyadari bahwa sang bulan hanya bisa tersenyum melihat kesombongannya

Mungkin bulan tak semenarik dirimu
dan bintang tak seindah kerlipmu
tapi satu yang tak mungkin kulupa darimu
senyum manismu laksana mentari penyejuk hati

saat tidur dalam lelap
mimpi melayang diatas ubun-ubunku
hanya satu yang menyejukkanku
dirimu yang kini tak lagi mungkin teraih
Baru kusadari
Kalau aku kehilangan dirimu

Saat kuterbangun dari tidurku

Dan merasakan sebuah sepi


Perempuanku

Setelah kau pergi

Baru tersadar olehku

Kalau kaulah yang terbaik disisi


Maafkanlah aku

Kuingin kembali

Merajut kembali cinta yang dahulu

Yang terkoyak hanya oleh nafsu


Tapi itu tak mungkin terjadi

Kau telah tergandeng lelaki

Yang mungkin terbaik untuk dirimu

Yang mungkin mengalahkanku


Namun satu pintaku padamu

Izinkanlah kuhantarkan kata-kata maafku

Walau hanya lewat puisi yang hambar

Untuk perempuan yang tak hambar
Cinta……
Mengapa kata itu harus ada
Bila akan tercerai berai
Oleh nafsu dunia

Cinta…..
Kata yang tak aku mengerti
Apakah itu ungkapan perasaan
Atau hanya menjadi sebuah kata

Rindu………..
Orang bilang itu menyenangkan
Tapi mengapa bagiku
Kata itupun berat menindihku

Angan……..
Hanya itu yang kini tertinggal
Setelah cinta menghilang
Rindupun sudah tak bersemayam

Bayangmu pun kini tak teraih
Hanya hitam yang terlihat olehku
Tanpa sudut yang jelas
Tanpa ada yang memperjelas

Sebelum ku dapat tertidur
Bayangmu selalu menderaku
Dengan sribu ingatan bersalah
Dan ku tak mampu untuk meminta maaf

Sebelum lelap hadir di mataku
Wajahmu selalu menghantui otak kiriku
Menyiksa dan terus mencambukku
Dengan sribu dosa yang telah terjadi

Dalam tidurpun
Mimpi seakan menjadi kiamat
Sebab dalam mimpi
Kaupun hadir menertawaiku

Sribu sesal dan maaf
Kini hanya dapat kuhantarkan
Lewat lagu dan puisi
Yang dihantarkan angin membisikmu
Mentari perlahan mulai menghilang dibalik jendelaku. Awan yang tadinya berwarna jingga kini dengan perlahan pula menjadi kelabu dan akhirnya tak meninggalkan sisa-sisa putih ditubuhnya. Saat itu aku tak tahu apakah mentari itu tenggelam dalam keabadian atau hanya sementara, namun harapan yang terus ada dalam benakku tak menginginkan ia terus menghilang, aku ingin dia kembali saat fajar mulai terlihat.
Tapi sebagian dalam diriku tak menginginkan siang yang berkepanjangan karena malam tak henti-hentinya menciptakan keindahan dibalik kegelapannya yang samar-samar.
Saat mentari tenggelam tanpa tersadar olehku bulan sudah mengintip dari balik pintuku dengan cahaya lembutnya menyentuh pergelangan tanganku, dan sesaat kemudian bintang dengan malu-malu mulai menghadiri pertemuan itu dan mulai meramaikan malam yang tadinya beralaskan hitam dan beatapkan gelap.
Malam itu mungkin bagi insan adalah sebuah persinggahan seorang pengembara dari perjalanan panjang yang menyuguhkan keindahan dunia dibalik tirai gelapnya namun bagiku malam adalah sebuah persembahan dari pujangga yang dengan rangkaian katanya dapat menyuguhkan melodi-melodi syahdu dalam alunan dawai harpa sang maestro cinta.
Malam yang sangat susah untuk terlupakan dalam otak semua makhluk dibumi karena malam itu merupakan persembahan termanis yang pernah ia berikan pada pada jagad raya, namun bila terus teringat, batin ini seakan-akan mau menghanurkan diri sendiri ini dalam ledakan-ledakan mautnya yang mungmin mengandung dinamit-dinamit berkekuatan benci dan amarah yang terangkum dengan sempurna dalam kitab sang maestro tersebut.
Saat itu, saat bulan mulai bermain bersama kerlip bintang di kegelapan sana, diantara tirai-tirai awan hitam yang semakin lama semakin berkumpul menghalangi permainan mereka. Saat itu pula aku bersandar dalam kebekuan yang menampar rusuk-rusuk ini dengan sesuka hati, jiwaku dengan paksa tega meninggalkan raga hampa dan hambar ini. Pergi terbang melayang entah kemana, mungkin ke alam surga tak berpenghuni atau entah kemana, aku tak mau perduli. Mataku dengan nanar memandang kearah timur dan tak sengaja mataku menangkap sekelebat bayangan tak jelas yang bergerak diantara galaunya hatiku dan diantara jejak-jejak malam.
Hanya itu kata yang mampu aku keluarkan dan ingin terucap oleh bibir keluku yang dahulu tak henti-hentinya untuk mengecup namamu lewat bibir-bibir puisi yang melantun indah dalam damainya angin syurga yang menghantarkan melodi yang kini tinggal gesekan.

Tak ada lagi sebaris kata indah, tak ada lagi sebait puisi romatis yang mampu aku ucapkan dengan bibir pucatku dalam lantunan melodi biola rindu untuk ungkapkan rasa bersalahku terhadap engkau dewi pagiku.

Malam yang terlalu indah untuk dilupakan hanya dalam kejapan mata dan kerlingan alis namun terlalu menyiksa bila terus teringat dalam otak beku seorang pujangga yang sampai saat ini hanya menjadi segumpal daging yang menyuarakan kata-kata picisan walau dalam derasnya hujan malam yang dengan setianya menemani sebuah bayang gelap diantara lorong-lorong waktu yang semakin lama semakin jauh seolah bersembunyi dibalik dinding keraton sang raja angkuh.

Wahai sang dewi, haruskah aku meninggalkanmu karena kesalahanku itu, bila iya, akan kuhempaskan seluruh raga, jiwa serta auraku dengan sekuat tenaga dari dunia khayangan dan khayalan ini ke bumi yang penuh tanah membusuk dan lumpur-lumpur biru yang menghisap semua kenangan indah serta rasa bahagia yang telah berabad tersimpan dan terkunci rapat-rapat dalam sanubari kecil nan mungilku.
Mungkin juga dengan kesalahan itu, kurelakan tubuhku kau injak-injak dan kau lemparkan kedalam api neraka yang membakar semua rindu dan asmara yang telah kita lalui bersama dalam sebuah kesemuan yang tak nyata namun mampu menghalangi jalan kita berdua.

Sekali lagi akan kuucapkan kata-kata maaf yang tertulis rapi dalam sebuah kertas buram ini dan akan kucoba untuk mengirimkannya padamu lewat pos jiwa yang trus berjaga.
Malamku kini sudah gelap

Yang terlihat hanya kaca hitam

Bulanpun kini terlindung

Oleh awan hitam


Namun kubahagia

Karena disudut ufuk sana

Ada sebuah bintang kecil

Yang mengerlip pada hatiku

Kulantunkan kata kata pujangga

Pada matahari yang mulai terbenam

Yang menyinari awan putih

Dengan sinarnya yang mulai senja

Kurangkaikan bait-bait indah

Pada bintang di langit hitam

Yang dengan kerlip mungilnya

Dengan setia mendampingi dewi malam

Kuhaturkan rasa terima kasih

Pada khayangan di atas sana

Yang telah menciptakan dewa amor

Dengan segala cinta dan kehangatan

dan kupersembahkan sebuah cinta

pada engkau sang mentari

yag dengan tangan terbuka

menerimaku apa adanya
SEDETIK YANG LALU
HATI KITA MASIH MENYATU
RAGAKU MASIH MILIKMU
BEGITUPUN DIRIMU
SEDETIK YANG LALU
MIMPI KITA MASIH SATU
INGIN TETAP MELAYANG JAUH
TERUS MENERUS TANPA LEPAS SAUH

SEDETIK YANG LALU
KU MASIH MENCUMBU
DAN TERUS MENCIUM BIBIRMU
HINGGA MENTARI TAK BERBEKAS
KINI………
SEDETIK ITU TELAH BERLALU
YANG TERTINGGAL HANYA BAYANGMU
YANG TAK MUNGKIN LAGI TERAIH

10pm : Aku sudah menguap lebar

11pm : Aku sudah mulai terlelap

00am : Aku sudah sangat lelap

01am : Kau menelponku dan bertanya

"apakah kamu sudah tidur sayang"
aku jawab
"aku baru mau tidur sayang"
Aku masih mengingat namanya yang tak bisa kusebut itu,
Terngiang dengan jelas tanpa harus kuingat,
Mungkin Dialah alasan langitku menjadi biru,
Bukan mungkin, Tapi memang dia.

Seperti benalu dalam jiwa tapi aku tak terganggu
dia tumbuh dan menyebar tanpa aba-aba
tapi sekali lagi tak menggangu, 
malah aneh kalau suatu saat dia tak ada

Seperti itu yang aku rasakan tentang dia yang tak bisa kusebut namanya.
Aku ingat saat bulan bersinar
Purnama ceria bermandikan bintang
Angin malam meniup helain daun kelapa
Jatuh, terbang entah kemana

Tersenyum menatap lautan biru yang telah menghitam
Tersenyum menanti malam yang kian redup
Menanti pagi yang tak kunjung datang
Menanti, menunggu

Angin malam menelusuk diantara jariku
Dingin, santai melewati telapak tanganku
Aku bertanya pada sang malam
Dimanakah tangan yang biasa menyisip diantara jariku

Jari itulah alasan mengapa langit berwarna biru
Jari-jari itulah yang senantiasa menemaniku
Seperti bulan yang menggantung menemani bintang
Seperti itu, seperti itu,,

Followers

Total Pageviews